|
|
|
|
e-Commerce! Sudah perlukah ..?
Saat ini semua hal yang bernuansae- sedang mengalami masa keemasan. Hampir dalam setiap kesempatan kita mendengar orang-orang sibuk berbicara tentang e-Commerce, e-Trade, e-Bussiness, e-Lifestyle, dan e-.. e-.. yang lain. Fenomena ini semakin marak ditambah dengan bersemangatnya para seminar organizer menyelenggarakan banyak seminar dengan judul yang beraneka macam tetapi hal yang diulas ya cuma itu-itu saja, yaitu bagaimana menangkap peluang yang ditawarkan oleh usaha yang tergolong dalam New Economy ini. Derasnya arus informasi yang memberitakan tentang kesuksesan yang telah dialami oleh orang-orang yang berbisnis via internet serta kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh dunia-e ini, juga ikut mendongkrak pamor teknologi Internet yang sepuluh bahkan lima tahun lalu di Indonesia masih belum dilirik untuk dimanfaatkan sebagai media perdagangan. Contoh yang paling sering disebut adalah kesuksesan yang dialami oleh Jeff Bezos dengan toko buku maya pertama di dunia berbendera Amazon.com (http://www.amazon.com), serta keberhasilan pemuda India, Sabeer Bhatia, yang ‘memaksa’ raksasa software dunia, Microsoft, untuk merogoh koceknya sebesar USD 400-an juta untuk membeli Hotmail.com (http://www.hotmail.com), situs layanan free e-mail yang dikelolanya. Kenyataan manis diatas sedikit banyak telah mendorong para pemilik perusahaan lain yang selama ini menjalankan roda bisnis mereka dengan cara tradisional untuk mulai melirik media Internet sebagai alternatif utama dalam pengembangan bisnis perusahaannya. Misalnya: Microsoft - lewat situs yang diberi nama Expedia -, IBM, GE, Dell, Cisco, Wal-Mart, .. dll. akhirnya membuka juga loket untuk bertransaksi di situs web mereka. Juga keberhasilan yang diraih Motorola, raksasa seluler dari Amerika Serikat, dapat dijadikan contoh yang bagus. Setelah terpuruk akibat kurang inovatif, dan kemudian disalib oleh Nokia dan Ericsson - dua saingan berat mereka dari Eropa - , kini Motorola telah mulai merebut kembali kejayaannya dengan menjadikan Internet sebagai kendaraan bisnis mereka. Meskipun demikian, bukan berarti setiap bisnis yang dijalankan via Internet akan mengalami kesuksesan. Ada juga usaha yang gagal, hanya saja informasi tentang hal itu sangat sedikit sekali. Contohnya, Nets. Inc., perusahaan on-line milik Jim Manzi - mantan CEO Lotus Inc. - yang sempat melambung sebagai the rising star di dunia e-commerce, akhirnya bangkrut pada Mei 1997. Padahal Manzi sangat berambisi untuk menjadikan Nets. Inc. sebagai tempat transaksi e-commerce antar perusahaan (bussiness to bussiness). Namun yang pasti, secara jujur memang harus kita akui bahwa pesona yang ditampilkan oleh teknologi berbasis web ini sangatlah memikat. Tinggal bagaimana cara kita memanfaatkannya sehingga return yang akan diperoleh dari investasi yang ditanamkan dalam bidang ini juga akan memuaskan. Menurut Forrester Research, lembaga riset dan konsultan yang berpusat di Massachusette, AS, pada akhir tahun 1996, 80 persen dari perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Fortune 500 telah memiliki situs web, walaupun diakui hanya 5 persen saja yang telah menyediakan transaksi online via internet. Saat ini tentu saja persentasenya sudah meningkat jauh. Dan menurut data yang ada, sebagian besar perusahaan yang masuk dalam golongan top dunia itu berkategori mass production, yang artinya membutuhkan waktu lama untuk menjadi perusahaan besar. Namun, perusahaan yang bergerak dengan Internet sebagai kendaraannya mampu berkembang begitu cepat dalam waktu yang singkat. Dalam lima tahun terakhir ini, ada sejumlah perusahaan yang dalam waktu setahun sudah berhasil menjadi perusahaan raksasa dengan mengembangkan pusat-pusat e-Commerce di Internet. Ketika Bill Clinton pertama kali menjadi presiden, indeks saham DowJones belum mencapai USD 5.000, sekarang indeksnya sudah menembus USD 11.000 dan sebagian besar disebabkan saham-saham Internet. Dan dari data yang ada juga ditemukan bahwa 46 persen perusahaan e-Commerce, baru berdiri rata-rata setahun. Tapi sebenarnya, Internet bukanlah satu-satunya teknologi untuk dapat melakukan transaksi perdagangan secara elektronik.
Karena tidak setiap barang cocok untuk diperdagangkan secara online di dalamnya. Faktor kebiasaan kebanyakan orang Indonesia yang cenderung menjadikan belanja
sebagai sarana rekreasi keluarga juga harus menjadi perhitungan. (ieo) References: Sisipan Sw@Net - SWA Sembada No. 02/XIV/22 Januari - 4 Februari 1998 SWA Sembada No. 18/XV/9 - 22 September 1999 Manajemen Usahawan Indonesia No. 10/TH. XXVIII Oktober 1999 SWA Sembada No. 10/XVI/16 - 29 Mei 2000
|
||
|
This article is written by Irhantoro E |